Jumat, 21 November 2014

Bacillus sp


Bacillus sp.
     Umumnya bakteri ini merupakan mikroorganisme sel tunggal, berbentuk batang pendek (biasanya rantai panjang). Mempunyai ukuran lebar 1,0-1,2 ?m dan panjang 3-5 ?m. Merupakan bakteri gram positif dan bersifat aerob. Adapun suhu pertumbuhan maksimumnya yaitu 30-50oC dan minimumnya 5-20oC dengan pH pertumbuhan 4,3-9,3. Bakteri ini mempunyai kemampuan dalam mendegradasi minyak bumi, dimana bakteri ini menggunakan minyak bumi sebagai satu-satunya sumber karbon untuk menghasilkan energi dan pertumbuhannya. Pada konsentrasi yang rendah, bakteri ini dapat merombak hidrokarbon minyak bumi dengan cepat.  Jenis Bacillus sp. yang umumnya digunakan seperti Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Bacillus laterospor.
      
     Selain dari golongan bakteri, mikroba pendegradasi hidrokarbon juga dapat dilakukan oleh fungi. Fungi pendegradasi hidrokarbon  umumnya  berasal dari genus Phanerochaete, Cunninghamella, Penicillium, Candida, Sporobolomyces, Cladosporium. Jamur dari genus ini mendegradasi hidrokarbon polisiklik aromatik. Jamur Phanerochaete chrysosporium mampu mendegradasi berbagai senyawa hidrofobik pencemar tanah yang persisten. Adapun oksidasi dan pelarutan hidrokarbon polisiklik aromatik oleh Phanerochaete chrysosporium menggunakan enzim lignin peroksidase.  Bila terdapat H2O2, enzim lignin peroksidase yang dihasilkan akan menarik satu elektron dari PAH yang selanjutnya membentuk senyawa kuinon yang merupakan hasil metabolisme. Cincin benzena yang sudah terlepas dari PAH selanjutnya dioksidasi menjadi molekul-molekul lain dan digunakan oleh sel mikroba sebagai sumber energi misalnya CO2. 
     Jamur dari golongan Deuteromycota (Aspergillus niger, Penicillium glabrum, P. janthinellum, Zygomycete, Cunninghamella elegans ), Basidiomycetes (Crinipellis stipitaria) diketahui juga dapat mendegradasi hidrokarbon polisiklik aromatik. Sistem enzim monooksigenase Sitokrom P-450 pada jamur ini memiliki kemiripan dengan sistem yang dimiliki mamalia.  Adapun langkah-langkahnya yaitu pembentukan monofenol, difenol, dihidrodiol dan quinon dan terbentuk gugus tambahan yang larut air (misalnya sulfat, glukuronida, ksilosida, glukosida). Senyawa ini merupakan hasil detoksikasi pada jamur dan mamalia.
Penyakit ice-ice adalah salah satu penyebab utama penurunan produksi rumput laut tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Filipina dan beberpa negara penghasil rumput laut lainnya. untuk mengetahui penyebab penyakit tersbut di indonesia, telah dilakukan eksperimen di laboratorium dengan menggunakan rumput laut sehat yang telah diaklimatisasi dan 8 isolat bakteri mikroflora rumput laut. Selama pengujian, K. alvarezii ditumbuhkan dalam erlenmeyer berisi air laut steril selama 2 minggu. Inkubasi dilakukan dalam shaker incubator dengan pencahyaan 12 jam gelap dan 12 jam terang. Hasil pengujian patogenitas 8 isolat terhadap K. alverezii menunjukkan bahwa 5 isolat dapat menimbulkan gejala penyakit ice-ice. Bakteri tersebut adalah Bacillus cereus, Vibrio granii, v. agarliquefaciens Pseudomonas nigrifaciensdn P.fluorescens. B. cereus memiliki daya patogenitas tertinggi.
Bacillus sp termasuk kedalam family Bacillaceae. Untuk bakteri Bacillus cereus sendiri merupakan bakteri gram positif, bersifat aerobik, dan mampu membentuk spora yang dapat ditemukan di tanah, pada sayuran maupun produk pangan (Tay, et al., 1982). Spora dari jenis bakteri ini tahan terhadap panas dan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan mampu membentuk kecambah dalam larutan yang mengandung NaOH dan HCL (Vecci dan Drago, 2006). 

Bakteri Bacillus cereus memiliki nilai waktu generasi dan konstanta laju pertumbuhan sebesar 18 menit dan 2,27 jam-1 yang diidentifikasi pada lumpur hasil pengolahan limbah cat (Dwipayana dan Ariesyady, 2009). Hasil penelitian uji kemampuan bakteri ini dapat menurunkan kadar ion sulfida dalam limbah cair setelah IPAL dengan metode turbidimetri dan gravimetri yaitu sebesar 39,39% dan 33,23%.

Strain dari bakteri Bacillus cereus dapat digunakan untuk mendegradsai deterjen seperti SDS (sodium dodecyl sulfate) menjadi dodecan-1-ol dan menunjukkan kemampuan yang cukup besar (43%) pada medium yang diperkaya dengan SDS 10 mg/ml (Singh, et al., 1998). Penelitian yang dilakukan Wulan, et al. (2006) pada sejumlah bakteri pendegradasi surfaktan yaituBacillus cereus, Bacillus subtilis, Bacillus aglomerans, Bacillus alva, dan Pseudomonas aeroginosa dapat bertahan sampai konsentrasi 1500 ppm di dalam LAS. Konsentrasi LAS diatas 513,98 ppm menunjukkan tegangan permukaan telah mencapai titik minimum dan mulai stabil. 

Sumber :
Dwipayana dan H.D. Ariesyady. Identification of Bacterial Diversity in Waste Recycling Paint Sludge by Conventional Microbiological Technique. Environmental Enggineering Study Program. Bandung. 

Singh, K.L. A. K. and A. Kumar. 1998. Short Communication : Bacillus cereus Capable of Degrading Sds Shows Growth With A Variety of Detergents. World Journal of Microbiology & Biotechnology. 14: 777 – 779. 

Tay, L., K.T. Goh, S.E.Tan. 2008. An Outbreak of Bacillus cereus Food Poisoning. Singapore Medical Journal. 23(04) : 214-217.

Vecchi, E. De and L. Dargo. 2006. Lactobacillus sporogenes or Bacillus coagulans:
Misidentification or Mislabelling?. International Journal of Probiotics and Prebiotics. 3(1):3-10.

Wulan, P., M. Gozan, Anondho., Dianursanti., Mahmud S. 2006. Biodegradation of Linear Alkyl Benzene Sulfonate by Bacterial Consortium. http://www.repository.ui.ac.id//b0841945989cba09517b00af352d6cc37be6a5bd.pdf. Diakses tanggal 25 Agustus 2010. 
http://matakuliahbiologi.blogspot.com/2012/06/bioremediasi.html


Budidaya Lele


LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH BUDIDAYA PERIKANAN
BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias batracus)
Aulia Yuaninda
4443120722
IV B Perikanan



JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2014
Jl. Raya Jakarta Km. 4 Pakupatan Kota Serang-Banten, Kode Pos 42121
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Masyarakat pribumi Gunditjmara di Australia kemungkinan telah memelihara belut pada 6000 tahun SM. Terdapat bukti bahwa mereka telah merubah dataran seluas 100 km2 di dekat danau Condah menjadi sekumpulan selat dan bendungan menggunakan anyaman yang digunakan sebagai jebakan ikan dan menjaga populasi belut agar dapat dimakan sepanjang tahun. Akuakultur di China telah beroperasi sejak 2500 tahun SM. Pasca peluapan musiman sungai, beberapa jenis ikan, umumnya ikan mas terperangkap di kolam. Pembudidaya memberi makan ikan-ikan tersebut dengan larva dan kotoran ulat sutra. Seleksi telah menciptakan ikan koi dan ikan hias lainnya sejak Dinasti Tang.
Bangsa Romawi telah membudidayakan ikan di kolam. Di Eropa tengah, berbagai biara umat kristiani mengadopsi praktek akuakultur bangsa Romawi. Akuakultur di Eropa menyebar pada Abad Pertengahan karena ikan dan produk ikan harus diasinkansupaya awet sebelum didistribusikan ke tempat yang jauh dari perairan dan ketika itu transportasi cukup mahal. Di Amerika Serikat, pengembangan ikan spesies Salvelinus fontinalis dimulai pada tahun 1859 dan perbenihan ikan komersial dimulai pada tahun 1864. Warga California memanen kelp pada tahun 1900 dan berusaha untuk menjaga suplainya agar tetap lestari. Kelpyang dipanen disuplai untuk Perang Dunia I.
Hingga tahun 2007, sekitar 430 spesies ikan telah dibudidayakan oleh manusia, dengan 106 spesies baru dimulai di dekade tersebut. Berbeda dengan budi daya tanaman di mana saat ini hanya 0.08% tumbuhan yang telah didomestikasi dan budi daya hewan darat yang baru mendomestikasikan 0.0002% spesies hewan darat, spesies hewan laut yang telah didomestikasikan elah mencapai 0.13% dan tumbuhan laut 0.17%. Domestikasi umumnya dilakukan setelah puluhan tahun penelitian dan pengamatan. Domestikasi spesies perairan memiliki risiko yang lebih rendah karena tidak menularkan penyakit ke manusia dan cenderung tidak membahayakan.Tertahannya volume perikanan tangkap yang diakibatkan oleh eksploitasi berlebih dari spesies laut membuat para pelaku budi daya perikanan mulai mendomestikasikan hewan laut.
Budidaya perairan (akuakultur) merupakan bentuk pemeliharaan dan penangkaran berbagai macam hewan atau tumbuhan perairan yang menggunakan air sebagai komponen pokoknya. Kegiatan-kegiatan yang umum termasuk di dalamnya adalah budi daya ikan, budi daya udang, budi daya tiram, budi daya rumput laut (alga). Dengan batasan di atas, sebenarnya cakupan budi daya perairan sangat luas namun penguasaan teknologi membatasi komoditi tertentu yang dapat diterapkan.
Budidaya perairan adalah bentuk perikanan budi daya, untuk dipertentangkan dengan perikanan tangkap. Di Indonesia, budi daya perairan dilakukan melalui berbagai sarana. Kegiatan budi daya yang paling umum dilakukan dikolam/empang, tambak, tangki, karamba, serta karamba apung.
Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut juga sebagai budidaya perairan atau akuakultur mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja tetapi juga organisme air lain seperti kerang, udang maupun tumbuhan air. Istilah akuakultur yang diambil dari istilah dalam Bahasa Inggris Aquaculture. Berikut definisi akuakultur menurut beberapa sumber.
Akuakultur merupakan suatu proses pembiakan organisme perairan dari mulai proses produksi, penanganan hasil sampai pemasaran(Wheaton, 1977). Akuakultur merupakan upaya produksi biota atau organisme perairan melalui penerapan teknik domestikasi (membuat kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan), penumbuhan hingga pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi (Bardach, dkk., 1972). Akuakultur merupakan proses pengaturan dan perbaikan organisme akuatik untuk kepentingan konsumsi manusia (Webster’s Dictionary, 1990).
Ikan lele (Clarias Sp.) merupakan ikan dari genus Clarias yang banyak tersebar di perairan Asia dan Afrika.Hanya ikan lele dari jenis-jenis tertentu saja yang bisa dibudidayakan untuk tujuan konsumsi. Jenis-jenis ikan lele tersebut biasanya memiliki sifat unggul seperti pertumbuhan cepat dan tahan terhadap penyakit. Selain itu, ia harus bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mempunyai kepadatan tinggi dan kondisi air minim.
Ikan lele banyak hidup di perairan air tawar hingga air payau. Beberepa peternak lele di Pantura Jawa berhasil membudidayakan ikan lele di tambak bekas bandeng dan udang. Pada dasarnya, ikan lele hidup secaranocturnal, aktif bergerak di malam hari. Di perairan bebas lele berada di tempat-tempat air tergenang yang cenderung tenang seperti rawa, danau dan daerah sungai yang agak terlindung. Biasanya ikan ini memilih tempat-tempat yang teduh dan membuat lubang-lubang ditanah.
Ikan lele termasuk pada jenis ikan karnivora atau pemakan daging. Di alam ikan ini menyantap cacing, kutu, larva serangga dan siput air.  Pada keadaan tertentu ia bisa memangsa sesamanya alias kanibal. Biasanya, ikan lele menjadi kanibal karena tak ada makanan lain dan faktor perbedaan ukuran. Lele yang lebih besar akan memangsa kawanan yang lebih kecil.
Di Indonesia, setidaknya terdapat dua spesies ikan lele yang biasa dibudidayakan masyarakat. Yaitu spesies Clarias Batrachus dan Clarias Gariepinus. Dari dua spesies ini, ada beberapa ikan lele yang dikategorikan unggul yaitu lele dumbo, lele sangkuriang dan lele phyton.

1.2  Tujuan
Praktikum Budidaya perikanan khususnya kami melakukan budidaya ikan lele (Clarias batracus) ini bertujuan agar mahasiswa perikanan mampu mengetahui bagaimana cara budidaya pembesaran ikan dan mengetahui perhitungan-perhitungan yang harus dilakukan.



BAB 2
METODOLOGI

2.1 Waktu Dan Tempat
Praktikum mata kuliah Budidaya Perikanan mengenai budidaya pembesaran ikan Lele (Clarias batracus) dilaksanakan pada hari Rabu, 2 April 2014 yaitu pembersihan kolam, pada hari Rabu, 14 Mei 2014 yaitu persiapan pengisian kolam, pada hari Rabu,21 Mei 2014 yaitu pemberian pupuk, pada hari Juma’at 23 Mei 2014 penebaran benih, dan setelah penebaran benih ikan Nila setaip hari ikan diberi pakan pada pagi pukul 17:15 WIB, siang pukul 11:45 WIB, dan sore pukul 17:00 WIB, kemudian dilakukan sampling pertama pada hari Rabu, 4 Juni 2014, sampling kedua dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 Juni 2014 dan sampling terakhir dilaksanakan pada hari Jum’at 26 Juni 2014 yang bertempat di Kolam Budidaya Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

2.2 Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang kami gunakan untuk melakukan budidaya adalah Kolam yang kami gunakan untuk menampung ikan, timbangan untuk mengetahui berat ikan saat sampling dilakukan, kertas indikator yang kami gunakan untuk mengukur derajat keasaman perairan atau pH perairan, secchi disk yang kami gunakan untuk mengukur kecerahan pada perairan budidaya, pakan PL 781-1 yang kami gunakan untuk menjadi pakan ikan lele, pupuk kandang atau kotoran hewan yang kami gunakan untuk menumbuhkan protozoa dalam perairan, dan bibit ikan lele yang kami budidayakan.

2.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam budidaya pembesaran ikan Lele (Clarias batracus) hal pertama yang kami lakukan yaitu melakukan bimbingan dengan aslab tentang pemberian pakan, jenis pakan dan hal yang harus dilakukan selama proses pembesaran ikan Lele (Clarias batracus) kemudian kami melakukan pembersihan kolam yang akan dijadikan tempat pembesaran ikan setelah itu kolam dipanaskan dengan menggunakan sinar matahari selama sehari kemudian dilakukan penisian air dengan meninggalkan atau menyisakan sebanyak 30 cm dari batas kolam kemudian dimasukan pupuk kandang atau kotoran hewan sebanyak 2 kg didalam karung yang direndam dalam air yang sudah diisi ke kolam selama 10 hari untuk menumbuhkan plankton yaitu pakan alami, penebaran dilakukan dengan mengaklimatisasi dahulu ikan agar tidak terjadi stres terhadap ikan. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari yaitu jam 07:15 WIB, 11:45 WIB, dan 17:00 WIB, pemberian pakan yang kami lakukan dengan memberikan sekenyang-kenyangnya terhadap ikan, kami melakukan pengukuran pH dan Suhu setiap hari, melakuakan sampling sebanyak dua kali untuk mengetahui pertumbuhan ikan Lele (Clarias batracus).

BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Sampling
No.
Kolam 1
Kolam 2
Derajat keasaman (pH)
Panjang
Berat
Panjang
Berat
5
1.
12 cm
13 gram
12,5 cm
14 gram
5
2.
13,5 cm
19 gram
12 cm
11 gram
5
3.
14,5 cm
18 gram
14 cm
20 gram
5
4.
15 cm
22 gram
10,5 cm
9 gram
5
5.
14 cm
18 gram
12 cm
12 gram
5
6.
12,5 cm
12 gram
13 cm
14 gram
5
7.
12 cm
12 gram
11,5 cm
9 gram
5
8.
11 cm
10 gram
12,5 cm
11 gram
5
9.
10 cm
8 gram
12 cm
10 gram
5
10.
8,5 cm
4 gram
15 cm
22 gram
5

3.2 Pembahasan
Pada praktikum pembesaran yang kami lakukan kami tidak mendapatkan ikan yang mati hal ini sepertinya karena ikan lele sangat tahan terhadap kondisi perairan sejelek apapun berbeda halnya dengan ikan lainnya yang peka terhadap kandungan nitrit, oksigen terlarut (DO), suhu dan lainnya yang kemungkinan bisa menimbulkan kematian, berbeda halnya dengan jenis ikan lain ikan lele lebih tahan dengan kondisi perairan yang kotor atau buruk tetapi mempengaruhi pertumbuhannya, seperti yang kami telah lakukan sampling berat dan panjang ikan bermacam-macam adapun pertumbuhan ikan lele yang terbesar memiliki berat 22 gram dengan panjang total 15 cm berada dikedua kolam yang berbeda adapun ikan dengan pertumbuhan terkecil memiliki berat 4 gram dengan panjang 8,5 cm, seharusnya jika ikan berukuran panjang 8,5 cm beratnya harus melebihi 4 gram namun yang kita dapatkan beratnya kecil kemungkinan berat yang kecil ini terjadi karena kondisi perairan yang kurang baik, kami kurang memperhatikan kondisi perairan hanya pengecekan yang kami lakukan pada perairan yaitu dengan mengukur pH atau derajat keasaman dan suhu perairan untuk kecerahan kami tidak melakukan karena sangat sulit untuk melakukannya dikolam pembesaran



BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dalam praktikum budidaya perairan ini dapat disimpulkan bahwa ikan lele tahan terhadap kondisi perairan yang jelek namun mempengaruhi pertumbuhan ikan lele yang seharusnya tumbuh dengan baik atau normal tetapi pertumbuhannya tidak normal hal ini adalah akibat dari keadaan perairan yang jelek, pertum buhan ikan lele juga dapat di pengaruhi mutu dan jumlah makanan tiap hari, pertumbuhan ikan lele ada yang cepat ada juga yang tertinggal gejala ini disebabkan oleh adanya persaingan di dalam memperoleh makan adakalanya mahasiswa telat karena ada kuliah sehingga kemungkinan ikan saat diberi makan sangat bersaing atau juga bisa karena ikan lele bersifat karnifor jadi saling memakan.

4.2 Saran
Pemberian pakan sebaiknya benar-benar pada waktunya karena sifat ikan lele adalah karnifor yaitu pemakan daging dan juga bisa memakan sesamanya sehingga memicu kejadian makan memakan juga dapat menimbulkan peertumbuhan yang lambat atau kurang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Bardach, J.E., Ryther, J.H., and W.L.Mc. Larney. (1972). Aquaculture  .Birmingham, Alabama: Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn University.
Effendi. 2004. Budidaya Ikan Nila. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rahardi, F. 1993. Kristiawati, Regina. Nazaruddin. Agribisnis Perikanan. Jakarta: Penerbit Swadaya.
Sugiarto Ir. 1988. Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. Jakarta: CV. Simplex.
Sumanatadinata, Komar. 1981. Pengembangan Ikan-Ikan Peliharaan Di Indonesia. Bogor: PT.Sastra Hudaya.
Suyanto, Rachenaturi. 1998. Budidaya Nila. Jakarta: Penebar swadaya.
Webster’s New World Dictionary. (1990). College ed. New York: The World Publ. Co.
Wheaton, F.W. (1977). Aquacultural Engineering. New York: John Willey& Sons.










Uji Kualitatif Boraks


Serang, 10 Juni 2014
Praktikum Biokimia Hasil Perairan


 
  

UJI ANALISA KUALITATIF KANDUNGAN BORAKS PADA PRODUK OLAHAN HASIL PERIKANAN

Aulia Yuaninda
4443121312

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2014
ABSTRACT
Borax or Borax (Java language) is a high concentration of mineral salt mixture used in the manufacture of some traditional foods, such as karak and gendar. Synonyms biborat sodium, sodium piroborat, sodium tetraborate. Borax is not a pure form of borax, boric acid while pure artificial pharmaceutical industry known as borax. Practicum was held on Friday, June 10, 2014 at 20:00 pm until finished which is housed in the Laboratory TPHP, aims to determine qualitatively borax on processed fishery products. We get the results after testing the borax content in processed fishery products around campus all negative containing borax.

Keywords : Borax, Processed, Qualitative
ABSTRAK
Boraks atau Bleng (bahasa jawa) adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional, seperti karak dan gendar. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat . Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks, sementara asam borat murni buatan farmasi industri lebih dikenal dengan nama boraks. Praktikum ini dilaksanakan pada hari jum’at tanggal 10 Juni 2014 pada pukul 20:00 WIB sampai selesai yang bertempat di Laboratorium TPHP, bertujuan untuk mengetahui boraks secara kualitatif pada produk olahan hasil perikanan. Hasil yang kami dapatkan setelah menguji kandungan boraks pada produk olahan hasil perikanan sekitar kampus semuanya negatif mengandung boraks.

Kata Kunci :  Boraks, Kualitatif, Olahan
PENDAHULUAN
Boraks atau Bleng (bahasa jawa) adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional, seperti karak dan gendar. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat (Na2[B4O5(OH)4]8H2O). Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks, sementara asam borat murni buatan farmasi industri lebih dikenal dengan nama boraks.
Boraks merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya bakso, kerupuk bahkan mie basah yang berada di pasaran. Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah. Asal tahu saja, gelas pyrex yang terkenal kuat bisa memiliki performa seperti itu karena dibuat dengan campuran boraks. Kemungkinan besar daya pengawet boraks disebabkan oleh senyawa aktif asam borat.
Borat-borat diturunkan dari ketiga asam borat yaitu asam ortoborat (H3BO3), asam piroborat (H2B4O7), dan asam metaborat (HBO2). Asam ortoborat adalah zat padat kristalin putih, yang sedikit larut dalam air dingin, tetapi lebih larut dalam air panas. Garam-garam dari asam ini sangat sedikit yang diketahui dengan pasti. Asam ortoborat yang dipanaskan pada 1000C, akan diubah menjadi asam metaborat. Pada 1400C dihasilkan asam piroborat. Kebanyakan garam ini diturunkan dari asam meta dan piro. Disebabkan oleh lemahnya asam borat, garam-garam yang larut terhidrolisis dalam larutan, dan karenanya bereaksi basa.
Kelarutan Borat dari logam-logam alkali mudah larut dalam air. Borat dari logam-logam lainnya umumnya sangat sedikit larut dalam air, tetapi cukup larut dalam asam-asam dan dalam larutan ammonium klorida. Untuk mempelajari reaksi-reaksi ini, kita memakai larutan natrium tetraborat (natrium piroroborat/boraks) Na2B4O7.10H2O.
Dalam bentuk tidak murni, sebenarnya boraks sudah diproduksi sejak tahun 1700 di Indonesia, dalam bentuk air bleng. Bleng biasanya dihasilkan dari ladang garam atau kawah lumpur. Pemerintah pernah memperbolehkan penggunaan boraks sebagai bahan makanan, namun dibatasi sejak 5 Juli 1959, batasnya hanya 1 gram per 1 kilogram, bila lebih, itu ilegal/ menyalahi aturan.
Ciri boraks adalah serbuk kristal putih, tidak berbau, larut dalam air, tidak larut dalam alkohol, PH ≈ 9,5. Dalam dunia industri, boraks menjadi bahan solder, bahan pembersih, bahan pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pengontrol kecoak. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat di dalamnya.
Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.
Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan dalam dosis berlebihan. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan, tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tibih konsumen secara kumulatif. Seringnya mengkonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, apatis, sianosis, tekanan darah turun, anurina (tidak terbentuknya urin), kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian.
Boraks merupakan bahan yang dikenal untuk industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut dan obat pencuci mata. Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, pembersih, pengawet kayu dan antiseptik kayu. Jika boraks terdapat pada makanan maka dalam jangka waktu yang lama akan menumpuk pada otak, hati, lemak dan ginjal. Pemakaian dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan demam, depresi, kerusakan ginjal, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebodohan, kebingungan, radang kulit, anemia, kejang, pingsan bahkan kematian (Saeful Karim, 2008).
Berbahayanya boraks bagi tubuh manusia sudah banyak diketahui oleh masyarakat umum, namun demikian belum banyak masyarakat yang mengetahui cara mendeteksi boraks dalam makanan. Kebanyakan untuk mengetahui kandungan boraks dalam makanan dilakukan melalui uji labolatorium oleh praktisi akademis. Untuk itu perlu dilakukan upaya penelitian mendeteksi kandungan boraks dalam makanan yang lebih sederhana, mudah dan dapat dilakukan secara langsung oleh semua kalangan masyarakat.
Kunyit merupakan salah satu bahan pewarna alami makanan. Kunyit juga dapat menyebabkan perubahan warna jika dicampur dengan zat-zat tertentu seperti lemak dan minyak. Namun apakah kunyit dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan boraks dalam makanan perlu dilakukan pengujian.
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui boraks secara kualitatif pada produk olahan hasil perikanan.
METODOLOGI
Praktikum Biologi Kimia Hasil perairan yang berjudul “UJI ANALISA KUALITATIF KANDUNGAN BORAKS PADA PRODUK OLAHAN HASIL PERIKANAN” dilaksanakan pada hari jum’at tanggal 10 Juni 2014 pada pukul 20:00 WIB sampai selesai yang bertempat di Laboratorium TPHP Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang – Banten.
Alat yang digunakan pada praktikum Biokim yang berjudul “UJI ANALISA KUALITATIF KANDUNGAN BORAKS PADA PRODUK OLAHAN HASIL PERIKANAN” adalah Tabung reaksi yang digunakan untuk tempat menyimpan larutan-larutan, meja tabung reaksi yang digunakan untuk menaruh tabung reaksi, pipet ruber bulb yang digunakan untuk mengambil bahan yang dicobakan, kompor gas yang digunakan untuk memanaskan air, ulekan yang dipakai untuk menghaluskan bahan yang ingin di ujikan. Bahan yang digunakan adalah produk olahan hasil perikanan sekitar kampus, aquades, regen A 3 ml, kertaas kuning, regen B.
Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, haluskan produk hasil perikanan yang ingin diujikan kemudian timbang bahan yang sudah halus sebanyak 10 gram kemudian masukan kedalam wadah lalu tambahkan aquades sebanyak 50 ml lallu homogenkan dan didihkan bahan uji yang sudah dihomogenkan setelah itu dinginkan kembali tambahkan regen A sebanyak 3 ml kedalam bahan uji kemudian homogenkan dan masukan kertas kuning hanya bagian ujungnya saja kemudian angin-anginkan kertas kuning lalu teteskan regen B 1-2 tetes jika warnanya berubah menjadi biru kehijauan maka dapat disimpulkan bahwa bahan yang di ujikan positif mengandung bahat pengawet dan pengenyal yaitu boraks.
Diagram alir
Haluskan 10 gram bahan uji
Tambahkan 50 ml air
Panaskan dan dinginkan
3 ml Regen A
Masukan bagian ujung kertas kuning
Angin-anginkan
Teteskan Regen B 1-2 tetes pada kertas kuning
(+) positif bila warna biru kehijauan
Gambar 1. Diagram kerja analisa kualitatif boraks
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari praktikum Biologi kimia hasil perairan yang berjudul “UJI ANALISA KUALITATIF KANDUNGAN BORAKS PADA PRODUK OLAHAN HASIL PERIKANAN” didapatkan hasil dari pengamatan yang dilakukan yaitu disusun sebagai tabel berikut ini:
No
Nama Produk Olahan Hasil Perikanan
Keterangan
1.
Bakso Ikan Mang Kus
Negatif (-)
2.
Otak-otak Pasar Rau
Negatif (-)
3.
Somay Kampus
Negatif (-)
4.
Bakso Tusuk Depan Kampus
Negatif (-)
5.
Empek-empek
Negatif (-)
6.
Batagor Depan Kampus
Negatif (-)
Tabel 1. Hasil Pengamatan boraks produk olahan hasil perikanan
Pada uji kualitatif analisa kandungan boraks kami mendapatkan hasil bahwa produk olahan hasil perikanan yang kami amati semuanya negatif mengandung boraks atau tidak mengandung boraks sehingga aman untuk dikonsumsi tetapi kami tidak menguji lanjut tentang bahan kimia lainnya yang mungkin digunakan untuk mengawetkan seperti formalin dan lain lainnya.
KESIMPULAN
Pada pengujian kualitas analisa kualitatif boraks bisa diteliti dengan mudah karena pada saat pembelian bahan untuk menjadi penguji sudah dicantumkan prosedur kerjanya sehingga mudah dilakukan diluar laboratorium. Hasil yang kami dapatkan setelah menguji kandungan boraks pada produk olahan hasil perikanan sekitar kampus semuanya negatif mengandung boraks.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi, Wisnu, 2006, Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, 58, Bumi Aksara, Jakarta.
Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar.  Jakarta : PT. Gramedia.
Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Supriyanti.(2005). Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia-Press
Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Svehla, G, diterjemahkan oleh Ir.L.Setiono.1979. VOGEL, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, Bagian I dan II. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka.

LAMPIRAN
Foto1006
Siapkan alat dan bahan yang akan diuji
Timbang sampel yang sudah di ekstra dagingnya sebanyak 10 gram
Foto1007
Foto1008
Masukkan sampel 10 gram ke dalam gelas
Tambahkan 50 ml aquades, lalu homogenkan
Panaskan larutan selama 10 menit, lalu masukkan gelas yang sudah homogenkan
Dinginkan selama beberapa menit
Masukkan reagen A sebanyak 5 ml
Masukkan reagen B sebanyak 5 ml
Masukkan kertas kuning
Amati perubahan warnanya